RANTAI DISFORIA

RANTAI DISFORIA

Cerpen Karya Ersaja

Semua berawal dari sebuah pesan di media sosialnya. Sejak kenal sosial media, Nia menjadi rutin mengunggah kesehariannya di internet. Dan berkat parasnya yang cantik, setiap kali ia menggunggah foto, tidak butuh waktu lama hingga ponselnya berdenting secara berturut-turut. Tanpa sanggup menahan senyum, ia akan memeriksa ponselnya dan melihat betapa banyak orang yang menyukai dan berkomentar di fotonya.

Yaampun cantik banget!

Bening banget wajahnya. Masih kecil aja udah cantik banget apalagi kalau udah besar!

Ini bukan artis? Seriusan?

Setiap foto yang ia unggah selalu menjadi bahan pembicaraan. Orang-orang yang tidak dikenalnya, orang-orang yang tidak akan merasa sungkan dan tak punya keuntungan apa-apa jika berbohong padanya memuji dan mengagumi setiap gambar yang ia unggah. Menjadi pusat perhatian di dunia maya membuatnya senang. Ia semakin rajin mengunggah foto, berharap eksistensinya semakin dikenali orang-orang. Berharap ia semakin memiliki nilai di mata orang banyak.

Ting.

Ponselnya berdenting sekali lagi. Kali ini sebuah pesan.

HalocantikJ, Aku Indra.. Kamu anak SMP 2 kan? Boleh kenalan?

Nia terkejap sejenak. Ia mencoba membuka profil sosok yang mengirimnya pesan itu. Seorang cowok yang terlihat sedikit lebih tua dari Nia, dengan rambut pendek dan senyum yang mirip dengan oppa Korea. Seketika saja muka Nia memerah. Untuk pertama kalinya ada anak laki-laki yang berusaha mendekatinya. Iapun dengan segera membalas pesan itu dengan senang.

Berawal dari pesan itu, mereka semakin dekat. Indra merupakan sosok yang sangat menyenangkan. Ia duduk di bangku SMA dan sebentar lagi akan kuliah. Ia begitu ramah dan selalu mau mendengar semua keluh kesah Nia, selalu mengucapkan kata-kata manis pada Nia hingga hatinya serasa meleleh tiap kali melihat nama Indra di layar ponselnya. Keduanya semakin dekat hingga hubungan yang hanya bermula dengan bertukar pesan sebagai sahabat maya, berubah menjadi saling telepon setiap malam, diselingi dengan video call di akhir pekan.

Benih-benih cinta muncul dalam diri Nia dan meski mereka belum pernah bertemu, Nia tidak ragu untuk berkata ‘Ya’ ketika Indra meminta Nia menjadi pacarnya.

“Kita kan udah resmi pacaran, nggak mau ketemuan langsung nih?” Tanya Indra suatu hari saat dari telepon.

“Ketemuan? Mau, mau, mau!” Seru Nia girang. “Tapi aku nggak di kasih untuk pergi jauh-jauh sama orangtuaku kak…”

“Eh, udah jadi pacarku kamu jangan manggil aku pakai Kak lagi. Indra aja, cukup.” Potong Indra. “Aku aja yang jemput, gimana? Kita jalan-jalan sebentar gitu di mall, habis itu aku antar pulang.” Tawar Indra. Nia mengiyakan dengan pasti. Sekarang ia punya seorang pacar, ia akan dijemput sepulang sekolah dan mereka akan pergi jalan-jalan. Di kepala Nia terbayang bagaimana hari-harinya akan seperti mereka ulang kisah-kisah romantis yang ia baca di dalam novel.

***

Hari pertemuan yang Nia nantikan akhirnya tiba. Kakinya ia ayun-ayunkan di bangku halte di depan sekolah dengan resah bercampur gugup. Ia terus menerus melirik ke jalan dengan resah di setiap menit yang berlalu. Sesekali ia memeriksa ponselnya dan mengecek apakah ada pesan baru yang masuk atau tidak. Tak lama kemudian, ia mendengar suara deru motor dan begitu Nia mengangkat kepalanya, di depannya, sosok yang selama ini hanya ia lihat dari balik layar, melambaikan tangan.

“Ka– Indra! Aku pikir kamu lupa mau jemput aku.” Senyum Nia kembali dalam sekejap ketika kakinya melangkah bergegas mendekati Indra.

Tangan Indra mengelus pipi Nia lembut, membuat wajahnya memerah. “Maaf, maaf. Aku juga baru pulang sekolah. Mana mungkin aku lupa mau ketemu sama pacarku yang cantik ini?” Ia tersenyum jahil sebelum menyerahkan helm pada Nia.

Kencan pertamanya terasa sangat menyenangkan. Indra tidak ragu untuk menggenggam tangan Nia ketika mereka berjalan. Ia membelikan Nia sepasang anting-anting yang sangat cantik dan mentraktirnya makan. Ia betul-betul merasa sedang menjadi karakter utama sebuah cerita.

Mereka berkeliling hingga sore hari sebelum Indra mengantarnya pulang. Lebih tepatnya, mengantarkan Nia ke taman dekat rumahnya karena Nia takut Mamanya akan marah kalau tahu ia pergi keluyuran sepulang sekolah.

“Makasih ya! Hari ini aku seneng banget!” Ucap Nia sambil mengembalikan helm yang ia kenakan pada Indra. Indra turut melepas helmnya dan menatap Nia dengan tatapan yang penuh dengan kasih sayang. Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke Nia hingga jarak diantara keduanya hanya tersisa beberapa senti. Nia yang terkejut dan bingung hanya terdiam mematung menatap mata Indra, hingga ia merasakan kecupan di bibirnya.

Nia mengambil langkah mundur dalam hitungan detik dan mengatup mulutnya dengan kedua tangan. Jantungnya berdebar dengan sangat kencang hingga rasanya semua orang bisa mendengar suara degup jantungnya. Kepalanaya berusaha memproses apa yang baru saja terjadi. Apa itu barusan?Apa Indra baru saja… menciumnya?

Indra yang melihat reaksi Nia hanya tertawa kecil sambil menyandarkan badan ke motornya. “Kamu imut deh. Kita kan udah pacaran. Yang tadi itu wajar untuk orang pacaran. Itu tandanya aku betulan sayang sama kamu.” Ucapnya sambil mengedipkan mata. “Aku pulang ya? Nanti malam aku telepon lagi.” Lanjut Indra sebelum melaju pergi meninggalkan Nia yang masih melongo seorang diri di taman.

Dengan wajah yang memerah Nia berlari menuju rumahnya dan langsung masuk ke dalam kamar. Nia tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Apa yang dilakukan Indra membuatnya panik, tetapi ia juga merasakan euforia tersendiri. Kata-kata Indra kembali terputar di otaknya.

“Itu tandanya aku betulan sayang sama kamu.”

Nia tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, apalagi berpacaran. Tapi Indra lebih tua darinya. Wajar kalau Indra tahu lebih banyak. Mungkin Indra benar. Nia berusaha meyakinkan dirinya sendiri dan memutuskan untuk percaya pada Indra.

***

Hubungan Nia dan Indra terus berlanjut. Indra makin sering menemuinya dan tak jarang memberikannya kecupan. Entah di kening, di pipi ataupun di bibir, sembari membisikkan kata-kata romantis ke telinga Nia. Dan Nia lama-kelamaan terbiasa dengan hal itu dan membiarkan Indra merangkul dan menciumnya karena ia yakin semua itu didasari oleh rasa cinta.

Foto-foto di media sosial Nia kini dipenuhi dengan fotonya dan Indra serta koleksi hadiah-hadiah yang tak henti-hentinya Indra berikan padanya. Tak jarang ia melihat komentar-komentar iri teman-temannya yang berkata Nia sangat beruntung punya pacar yang tampan dan perhatian seperti Indra. Hal itu membuat Nia semakin gencar memamerkan keromantisan hubungan dengan Indra di media sosial.

Suatu hari, Indra sedang dalam mood yang jelek ketika mereka sedang melakukan video call. Ia bercerita bahwa hasil tesnya jelek dan hal itu membuatnya merasa sedih.

“Sayang…” Panggil Indra. Nia hanya memiringkan wajahnya dan tersenyum pada pacarnya itu. “Aku kan lagi sedih, hibur aku dong.” Ucap Indra dengan nada manja.

“Hibur gimana?” Tanya Nia.

“Aku mau lihat kamu.” Ucap Indra setengah berbisik. Nia mengerutkan keningnya karena tidak paham maksud Indra. Bukannya mereka sedang saling tatap-tatapan di video sekarang?

Seakan-akan membaca pikiran Nia, Indra menambahkan, “Bukan cuma wajah kamu. Tetapi kamu sepenuhnya…” Ucapnya masih dengan suara lembut dan penuh kasih seperti biasanya. Tangannya digerakkan ke area dada. Mata Nia membelalak begitu paham maksud Indra dan dengan cepat ia menggelengkan kepalanya.

“Kenapa? Kamu malu? Kan cuma aku yang lihat. Pacarmu lho… Toh ini kan di telepon. Setelah ini nggak ada yang bisa melihat lagi. Kamu nggak percaya sama aku?” Indra menatapnya dengan kecewa. “Kamu nggak cinta sama aku?”

“Bu, bukan gitu. Tapi…” Nia menjawab dengan ragu. Ia cinta Indra dan tidak ingin membuat Indra kecewa. Tapi…

“Tetap pakai bra juga nggak apa kok. Aku cuma mau lebih tahu kamu. Biar aku nggak sedih lagi. Kalau lihat kamu aku selau jadi senang.” Ucapan Indra membuat rasa ragu Nia semakin bercampur dengan rasa bersalah.

Meski ragu, perlahan ia menanggalkan kaos yang ia kenakan. Tangannya berusaha memeluk badannya karena malu. Masih dengan wajah yang memerah, ia mencuri pandang ke arah layar ponselnya.

“Tuh kan, benar dugaanku. Kamu memang cantik banget… Mukamu cantik, badanmu juga bagus. Beruntung banget aku punya pacar kayak kamu.” Nia melihat Indra tersenyum. Senyum yang sama yang selalu penuh dengan kasih sayang. Senyum yang selalu membuat Nia tenang.

Nia menghela napas yang sedari tadi ia tahan. Perlahan tangan yang berusaha menutupi badannya ia turunkan.

***

Kejadian itu adalah awal kesalahan fatal bagi Nia. Karena tak butuh waktu lama untuk Nia akhirnya mengetahui bagaimana sifat asli Indra. Indra yang ia kenal sebagai sosok yang lembut dan romantis tak bertahan lama. Semakin lama mereka berpacaran, Indra semakin sering mengasari Nia. Ia sering marah-marah tanpa sebab dan berujung minta maaf pada Nia dan memohon agar Nia tidak pergi karena ia masih cinta.

Tetapi kesabaran Nia berakhir ketika Indra mulai sering menghilang dan hanya muncul ketika ia membutuhkan sesuatu. Tak jarang Indra meminjam uang Nia untuk kebutuhan kuliahnya namun tak pernah jelas kemana ujungnya. Teman-teman Nia mulai menasihatinya, berkata bahwa hubungan mereka semakin tidak sehat. Dan Nia setuju akan hal itu.

Setelah mempersiapkan diri dan kata-kata, Nia menghubungi Indra dan meminta untuk mengakhiri hubungan mereka. Namun respon Indra lebih menakutkan diluar ekspektasi Nia.

“Aku dari dulu selalu baik, selalu sayang sama kamu. Terus sekarang karena aku lagi jatuh, kamu mau pergi? Sana pergi kalau gitu. Tapi asal kamu tahu, kalau kamu pergi, semua screenshot dari video-video badanmu itu akan kusebar di internet!” Ancamnya dengan nada tinggi. Seketika juga wajah Nia menjadi pucat pasi. Seakan belum cukup, ponsel Nia bergetar berkali-kali dan foto-foto dirinya tanpa busana, foto-foto yang ia kirimkan pada Indra atas dasar cinta, foto-foto yang katanya hanya untuk Indra dan Indra seorang kini terpampang di layar kacanya.

“Sekarang kamu tahu kan resikonya kalau kamu minta putus lagi?” Indra berbisik dari seberang telepon, sementara Nia hanya bisa menangis karena takut. “Aku sayang sama kamu, Nia. Ayo kita ketemu sekarang. Kalau kamu nurut nanti fotonya aku hapus.” Lanjut Indra dengan lembut. Namun suaranya yang penuh sayang itu tetap seperti jarum di telinga Nia.

Nia menuruti permintaan Indra. Karena takut dan karena secercah harapan untuk menghilangkan foto-foto yang ada di tangan Indra hanya bisa ia peroleh jika mereka bertemu. Mereka akhirnya bertemu di sebuah taman kecil. Begitu bertemu, Indra segera memeluknya dan kembali membisikkan kata-kata cinta yang sama sekali tak Nia dengarkan. Badan Nia tak lagi merasakan hangat dari pelukan Indra. Yang ada hanya rasa takut, takut dan takut.

“Katanya kalau kita ketemu kamu mau hapus foto-foto itu?” Tanya Nia tak sabar. Indra tidak mengubrisnya dan tetap memeluk Nia. Namun Nia tersentak ketika ia merasakan tangan Indra tak lagi merangkulnya, namun mulai meraba pahanya. Awalnya Nia hanya berusaha menggeser posisinya dan mendorong tangan Indra menjauh. Namun Indra terus berusaha menyentuhnya lagi dan lagi hingga Nia tidak nyaman.

“Tunjukin dulu kalau kamu masih sayang sama aku, baru aku hapus fotonya.” Bisik Indra di telinga Nia. Salah satu tangannya entah sejak kapan mulai berusaha masuk dari sela baju Nia selagi tangan Indra yang lain masih berusaha meraba paha atas gadis itu dengan semakin agresif.

Insting Nia untuk melindungi dirinya, membaca kemungkinan apa yang mungkin berusaha Indra lakukan membuat Nia dengan cepat meronta dan mendorong badannya sejauh mungkin dari Indra selagi mulutnya berusaha berteriak sekeras mungkin. Ia terjatuh dari kursi tempat mereka duduk dan tanpa pikir panjang segera berusaha kabur dari taman itu. Meski Indra memanggil namanya, ia tidak berusaha berbalik. Air mata telah membasahi pipinya.

Kejadian itu terus menghantui Nia, baik ketika ia tertidur maupun terbangun. Telepon dari Indra tak ia angkat dan Nia menolak untuk pergi ke sekolah. Ia mengurung dirinya di kamar dan menangis terus menerus tanpa menjelaskan apapun kepada orang tuanya.

Ia merasa malu dan takut jika orang tuanya tahu. Setiap harinya Nia merasakan horor dari setiap suara motor yang terdengar di depan rumahnya, takut kalau Indra berusaha mencarinya lagi. Ia ingin bisa menghapus memorinya soal Indra tetapi setiap kali ia memejamkan mata, kejadian di taman sore itu selalu terputar kembali di kepalanya.

Ting ting ting

Ponselnya berbunyi memberi notifikasi secara terus menerus. Suara dentingan yang tak berhenti membuat Nia mengangkat wajahnya dari kasur, dan dengan matanya yang sembab, diperiksanya ponsel itu.

Ini yang foto syurnya lagi viral itu ya?

Dek sama abang aja gimana? Abang bisa kasih uang jajan yang banyak. Wkwkwkwk

Astaga masih bocah udah muncul di situs porno aja mukanya

Woi bagi link dong! Pengen liat juga dedek cantik.

Ini yang fotonya ada di link ini kan?

Di kamarnya yang gelap, Nia hanya bisa melihat bagaimana media sosialnya kini penuh dengan komentar-komentar yang membuatnya merasa jijik. Dengan tangan gemetar Nia menekan tombol link yang dibicarakan orang-orang.

Nia segera melempar ponselnya ke dinding hingga hancur dan berteriak histeris ketika melihat foto-foto yang dimiliki Indra kini berjejer di situs-situs dewasa, lengkap dengan namanya, umurnya, bahkan alamat rumahnya.

Indra tidak bohong soal ancamannya. Dan oh betapa ironisnya, bahwa kini ia menjadi pusat perhatian seperti mimpinya. Namun dengan cara yang tak sekalipun terlintas di kepalanya.

***

Foto-fotonya yang kini viral membuat keadaan memburuk. Orang tuanya ikut merasa stress karena menghadapi orang-orang yang berusaha mencari tahu. Telepon iseng, teror orang-orang ke rumah, dan Nia yang semakin dihantui oleh foto-fotonya sendiri seakan membuat dunianya berakhir.

Nia tidak ingat kapan ia pergi keluar. Yang ia tahu ia sudah berada di taman yang sama tempat semuanya bermula dan juga tempat semuanya berakhir. Ia melihat ke langit dengan tatapan kosong. Malam itu bintang bersinar terang. Tapi di mata Nia semua terasa gelap. Jemarinya memainkan silet di tangannya dan napasnya masih tidak teratur karena terlalu lama menangis. Ia menatap langit sekali lagi sebelum menarik napas sedalam mungkin.

Satu tarikan…

dua tarikan…

tiga tarikan…

Matanya memandang warna merah yang kini menghiasi pergelangan tangannya. Lucunya ia tidak merasa sakit. Ada ketenangan sendiri yang ia rasakan bersama dengan rasa hangat yang membanjiri tangannya.

Bintang-bintang masih bersinar di langit malam. Namun perlahan, semuanya menghilang dari pandangan Nia dan berganti gelap. Suara orang-orang tak lagi terputar di kepalanya. Hanya hitam, hitam dan tenang.

== SELESAI==

Sepucuk Pesan

Sepucuk Pesan
Karya Ersaja

Hari itu merupakan hari yang cukup lelah bagi Pak Hadi. Meski kegiatan belajar-mengajar masih dilakukan secara daring, ia terpaksa tetap pergi ke sekolah tempat ia mengajar karena harus mengambil beberapa dokumen. Namun karena sekolah yang sepi terlepas dari beberapa petugas kebersihan dan satpam yang berjaga, Pak Hadi memutuskan untuk menyelesaikan tugasnya di sekolah. Menyalin materi dan menyusunnya di laptop untuk bekal mengajar minggu-minggu selanjutnya. Di usia senjanya, berusaha mengikuti perkembangan teknologi saat wabah corona menyerang serasa bagai tantangan yang lebih rumit dari rumus matematika yang dibenci murid-muridnya. Namun sebagai seorang guru, sudah menjadi kewajibannya untuk tetap bisa memberikan ilmu pada anak-anak didiknya.

Saat ia selesai, senja telah menyapa di ujung barat, menghiasi langit dengan warna merah temaram yang membasuh seluruh dinding ruangan tempatnya berada. Tangannya berusaha memijat pangkal hidungnya yang perih karena memakai kacamata terlalu lama sambil merenggangkan badannya sejenak. Setelah itu barulah Pak Hadi mengemasi barang-barangnya dan berjalan ke arah parkiran tempat mobilnya berada.

Mata Pak Hadi sudah terasa sangat berat ketika ia baru separuh jalan menuju rumah. Ia sempat berpikir untuk minggir sejenak karena sadar bahayanya menyetir dalam kondisi ngantuk. Namun jarak rumah yang tinggal sedikit lagi dan kasur yang menunggu di rumah terlalu menggoda untuk membuatnya berhenti.

Pak Hadi berkali-kali menguap di balik maskernya. Berusaha mengusir lelah, namun pikirannya kalah terlebih dahulu. Ia menggerakkan mobilnya ke arah rumah berbekal memori dibandingkan karena ia sadar dimana posisinya sekarang. Namun rasa kantuknya dengan cepat menghilang ketika tiba-tiba suara peluit yang nyaring terdengar dari jalan di depannya.

Seorang polisi yang bertugas segera menghadang mobil Pak Hadi dan menggiringnya untuk berhenti di sisi jalan. Pak Hadi sejenak bingung dan segera berusaha mengingat-ingat apakah ia membawa SIM dan STNK atau tidak. Ia juga tidak merasa melebihi batas kecepatan sehingga seharusnya tak ada alasan bagi polisi itu untuk menghentikannya. Rasa curiga kalau-kalau polisi itu adalah oknum nakal yang suka melakukan razia palsu muncul di kepala Pak Hadi.

“Selamat siang Pak. Maaf, tapi ini jalan satu arah Pak. Mobil Bapak melawan arus.” Polisi yang sama menunjuk ke arah papan tanda jalan satu arah di perempatan tak jauh dari tempat Hadi berhenti.

Sontak Pak Hadi berbalik dan menyipitkan matanya, berusaha melihat tanda yang ditunjuk polisi itu. “Ya Allah!” Pak Hadi menepuk jidatnya begitu sadar bahwa ia berbelok di jalan yang salah. “Iya Pak. Saya nggak sadar ada tanda itu.” Pak Hadi dengan malu mengakui kesalahannya.

“Bisa saya periksa SIM dan STNKnya?” Tanya Si Polisi dengan maklum.

Pak Hadi mengangguk dan menyerahkan surat-surat itu dari dompet. Ketika si polisi melihat surat-surat miliknya, Pak Hadi dapat melihat bagaimana kilat di mata polisi itu terlihat terkejut sebelum mengangkat kepalanya dan menatap Pak Hadi lekat-lekat. Lalu dalam hitungan detik, polisi muda itu segera meraih tangan Pak Hadi dan mencium tangannya.

“Ya Allah, Pak Hadi! Nggak nyangka saya bisa ketemu Bapak lagi!” Seru polisi itu sambil memeluknya.

Pak Hadi hanya terpatung karena bingung. Dalam kepalanya ia bertanya-tanya siapa gerangan polisi itu. Meski masih tidak paham atas apa yang terjadi, tangannya dengan ragu dirangkulkan ke polisi itu sambil menepuk-nepuk punggungnya pelan.

“Maaf, ananda ini siapa ya? Saya tidak ingat.” Tanyanya dengan jujur ketika si polisi melepaskan pelukannya.

Si polisi terkekeh sejenak sebelum menjawab, “ya jelas tidak ingat, Pak. Saya kan terakhir ketemu bapak ketika masih kecil. Saya Reza Pak. Dulu sekolah di SMPN 1 MANDALA.”

“Oalah, kamu pernah saya ajar ya?” Pak Hadi tersenyum pada polisi itu meski sejujurnya ia masih tidak mengingatnya. Mengajar selama bertahun-tahun membuat ingatannya terhadap setiap murid semakin kabur dari waktu ke waktu meski ia berusaha untuk tetap mengingat nama murid-muridnya.

Polisi itu nampaknya menyadari hal ini dan segera merogoh dompetnya, mengeluarkan selembar kertas yang sudah usang. Kertas itu tampaknya sudah dilipat dan dibuka lagi berkali-kali hingga beberapa garis lipatannya sobek dan ditempelkan ulang menggunakan selotip. Diserahkannya kertas itu kepada Pak Hadi sambil tersenyum.

“Dulu Bapak yang memberikan saya pesan ini. Saya simpan sampai sekarang untuk terus mengigatkan saya selama ini.” Jelasnya.

Mata Pak Hadi yang telah rabun berusaha membaca tulisan yang ada di kertas itu. Tidak salah lagi, goresan tinta di kertas itu adalah tulisan tangannya sendiri. Perlahan ia menyusuri kata demi kata yang tertulis.

Ilmu memang penting, Tapi adab jauh lebih utama.
Ilmu bisa terus dicari sampai tua.
Tetapi tingkah laku yang baik harus ditanam sejak muda.

Kata-kata yang tertulis di kertas itu sederhana. Namun itu cukup untuk memompa sebuah memori lama yang tersimpan dalam otaknya yang sudah tua.

“Reza… Reza…” Ia gumamkan nama si polisi ketika akhirnya sesosok wajah anak laki-laki yang terakhir ia temui sepuluh tahun yang lalu.

***

Menjadi guru di Sekolah Menengah Pertama bukanlah hal yang mudah. Murid-muridnya tak lagi sepenurut anak SD, namun masih sering bertingkah usil dan belum sedewasa anak SMA. Pak Hadi paham betul hal tersebut. Namun itu juga yang merupakan keistimewaan menjadi guru SMP. Sebuah tanggungan untuk melihat bagaimana jiwa-jiwa muda tumbuh.

Hari itu Pak hadi sedang memeriksalembar ulangan murid murid kelas IX C. Ketika ia memeriksa salah satu lembar jawaban muridnya, ia menyadari bahwa ada muridnya yang hanya berhasil menjawab tujuh dari dua puluh soal dengan benar. Mata Pak Hadi pun segera tertuju pada si pemilik lembar jawaban. Reza. Nama yang tak asing lagi baginya sosoknya yang langganan muncul di ulangan remedial. Pak Hadi kemudian menyisihkan lembar jawaban Reza bersama dengan murid-murid lain yang harus mengulang dan menyelesaikan pekerjaannya hingga bel masuk berbunyi. Iapun berangkat menuju kelas IX C dengan membawa hasil ulangan murid-muridnya.

“Hasil ulangan dua hari lalu sudah Bapak periksa. Bagi yang namanya dipanggil, maju ke depan dan ambil hasil ulangan kalian.” Ucapan Pak Hadi ditanggapi dengan berbagai gerutuan kecil dari murid-muridnya. Di setiap nama yang dipanggil, reaksi tiap murid berbeda-beda. Ada yang senang, ada yang kaget dengan nilainya sendiri, ada yang cengengesan karena nilainya rendah dan… ketika murid bernama Reza itu melihat nilai ulangannya, ia hanya menghela napas panjang sebelum kembali ke bangkunya dengan gontai.

“Gimana?” Tanya seorang murid lain pada Reza dengan suara pelan. Reza hanya memberikan senyum lirih dan menggelengkan kepalanya pelan. Setelah itu, selama di kelas, Pak Hadi dapat melihat bagaimana Reza seakan menghilang dari ruang kelas dan tenggelam dalam dunianya sendiri. Materi yang ia sampaikan tak sedikitpun menarik perhatian muridnya itu.

Di mata Pak Hadi sendiri, Reza bukanlah murid yang bermasalah. Ia bahkan cukup terkenal karena merupakan murid yang sangat ramah dan aktif di berbagai kegiatan yang diadakan sekolah. Ia juga selalu memperhatikan gurunya ketika di kelas, dan merupakan salah satu pengurus OSIS di sekolah. Hanya saja di bidang akademis ia memang lebih lambat menerima materi dibandingkan dengan murid yang lain sehingga nilainya sering di bawah rata-rata kelas.

Tetapi belakangan ini, ia menjadi lebih pasif di kelas dan sering terlihat melamun selama jam pelajaran. Pak Hadi pun menjadi khawatir akan muridnya itu dan memutuskan untuk mencari waktu untuk menanyakan hal itu pada Reza.

***

Kesempatan untuk berbicara dengan Reza ternyata datang lebih cepat daripada yang ia sangka.

Ketika bel pulang telah berbunyi, murid-murid dengan semangat memasukkan buku mereka dan segera berlarian setelah mencium tangannya dan mengucapkan salam. Wajah mereka terlihat sumringah, berbanding terbalik dengan muka mengantuk yang menghiasi kelas selama jam pelajaran tadi.

Pak Hadi sediri segera berjalan kembali ke ruang guru untuk merapikan barang-barangnya dan meninjau kembali hasil mengajarnya hari itu. Ia tetap bekerja di mejanya meski satu persatu guru-guru yang lain pulang. Ia berharap dapat pulang ke rumah tanpa dihantui pekerjaan, sehingga memutuskan menyelesaikan semua kerjaannya sebelum pulang.

Saat itulah, Mata Pak Hadi yang awalnya berfokus pada buku catatannya, terusik oleh sebuah siluet di jendela yang terhubung dengan taman belakang sekolah. Seragam putih dengan dasi biru dari sosok di balik jendela itu menjadi pertanda bahwa sosok yang ia lihat adalah seorang murid. Pak Hadi mengerutkan alisnya dan memeriksa jam yang terpasang di dinding. Setengah lima sore.

Pak Hadi menghela napas panjang sebelum bangun dari tempat duduknya dan berjalan ke taman belakang, siap menegur si murid yang melanggar peraturan. Meski sudah sering diingatkan bahwa para murid harus pulang maksimal jam empat sore, kadang masih ada saja anak-anak nakal yang bersembunyi dan tetap nongkrong di sekolah, entah apa alasannya.

Namun alangkah terkejutnya Pak Hadi ketika yang ia temukan bukanlah murid-murid yang asyik mengobrol atau makan jajanan dari kantin, melainkan seorang anak laki-laki sangat ia kenal, tersungkur di pojok dinding dengan selembar kertas di tangannya.

“Nak Reza?” Panggil Pak Hadi pada sosok itu.

Reza terperanjat dengan keberadaan Pak Hadi dan segera berdiri dari tempatnya duduk. “Eh, Pak Hadi…” Reza yang gugup dengan cepat memasukkan kertas di tangannya ke dalam tas. Meski hanya sekilas, Pak Hadi tahu bahwa kertas itu adalah lembar ulangannya siang tadi.

“Sudah jam berapa ini? Kenapa kamu masih di sekolah?” Tanya Pak Hadi dengan nada tegas.

“Maaf Pak… Keasyikan di ruang OSIS tadi.” Jawabnya gelagapan. Ada jeda sejenak diantara keduanya sebelum Reza menambahkan, “Kalau gitu saya pamit pulang sekarang ya Pak?”

“Nak, sebentar.” Pak Hadi menepuk bahu muridnya itu sebelum ia sempat angkat kaki. “Bapak lihat kamu belakangan ini sering tidak fokus di kelas. Padahal biasanya kamu rajin bertanya. Kamu ada masalah?”

Reza tidak langsung menjawabnya dan hanya tertunduk diam. “Kalau kamu ada masalah, ada kesulitan sama pelajaran atau yang lain, kamu bisa cerita ke Bapak. Bapak sedih kalau lihat murid Bapak mukanya cemberut terus di kelas.” Tambah Pak Hadi. Ucapannya itu nampaknya membuat Reza sedikit lebih tenang. Ia menatap Pak Hadi dengan amalgamasi emosi yang sulit terbaca. Takut? Khawatir? Malu? Berharap? Ekspresinya terlalu rumit untuk masuk ke dalam satu kategori.

“Saya capek Pak! Padahal saya belajar tiap hari, tapi tetep aja saya nggak paham sama materi. Temen-temen ngatain saya bodoh dan kebanyakan gaya ikut ini itu tapi nilai merah semua!” Reza meluapkan emosinya sambil mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih.

“Tidak ada murid yang bodoh. Yang ada hanya murid yang kemampuan belajarnya cepat dan tidak. Namanya juga pelajar. Ya kalian memang dalam tahap belajar. Kalau semua materi langsung bisa, ngapain kamu sekolah? Bapak yang sudah jadi guru saja masih harus belajar lagi sebelum mengajar.” Pak Hadi tersenyum lembut pada muridnya itu. “Kamu jangan merasa minder hanya karena nilai. Nilai memang penting, tapi bukan yang paling penting. Itu Cuma angka. Sekarang Bapak tanya… Memang kamu sewaktu ulangan menyontek?”

Reza dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Enggak Pak. Saya nggak pernah nyontek. Kalau nyontek hasil ulangan saya nggak mungkin jelek terus kan Pak.”

“Pernah kamu bolos?”

Reza menggelengkan kepalanya lagi.

“Nah, lihat kan? Setahu Bapak kamu tidak pernah melakukan hal yang pantas membuat kamu malu. Bapak tahu kamu rajin bantu-bantu di OSIS. Kamu selalu sopan pada guru-guru. Bahkan Ibu Penjaga Kantin kenal kamu karena selalu menyapa dia setiap pagi. Terus apa yang membuat kamu malu? Sopan santun dan kerendahan hati itu jauh lebih penting.”

Reza tampak ingin protes, namun tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya selagi wajahnya memerah menahan malu. Pujian mungkin bukan sesuatu yang sering ia terima sehingga ketika Pak Hadi berusaha menyebutkan kelebihannya, ia tampak kebingungan.

Pak Hadi kemudian menuliskan sesuatu di secarik kertas, kemudian menyerahkannya pada Reza. “Kamu baca baik-baik. Kamu resapi. Tanyakan ke dirimu sendiri, yang mana yang lebih penting.” Pak Hadi sekali lagi penepuk pundak muridnya .

Reza hanya menatap kertas pemberiannya lekat-lekat. Senyum kecil menghiasi wajahnya sebelum ia melipat kertas itu dan pamit untuk pulang.

***

Pak Hadi percaya akan kekuatan dari kata-kata. Ia percaya bahwa sedikit dorongan, dapat memberi perubahan besar. Itu salah satu hal yang ia pelajari selama menjadi guru. Murid-muridnya selalu memiliki pribadi yang berbeda dan menarik dalam berbagai hal. Namun banyak pula yang tersembunyi dan tenggelam dalam standarisasi yang terlalu kaku dari masyarakat.

Anak-anak seperti itu, menurut Pak Hadi membutuhkan sebuah pematik. Sedikit kata-kata dari sudut pandang berbeda, untuk membuat mereka sadar bahwa diri mereka sama hebatnya dengan orang-orang di sekitarnya.

Keesokan harinya, ketika Pak Hadi melihat Reza berjalan dengan terburu-buru di lorong sambil membawa tumpukan kotak bertuliskan ‘OSIS’, ia tahu bahwa kata-katanya telah menjadi pematik yang tepat untuk menyalakan kembali semangat muridnya.

***

“Kamu Nak Reza yang waktu itu ya?” Pak Hadi menatap polisi itu lagi. Kalau dilihat-lihat memang wajahnya mirip dengan murid yang ia kenal. “Masya Allah! Gagah sekali sekarang kamu nak!” Ucapnya sambil menepuk bahu Reza dengan bangga.

“Alhamdulillah Pak. Ini semua berkat Bapak.” Jawab Reza sambil tersenyum sopan. “Saya terus ingat kata-kata Bapak waktu itu. Setelah lulus sekolah, saya mengabdi jadi relawan dan salah satu aktivis senior di sana menawarkan untuk membiayai saya sekolah kepolisian.” Pak Hadi mendengarkan cerita Reza dengan antusias.

“Bapak benar. Nilai itu bukan segalanya. Bukan nilai yang membawa saya sampai seperti sekarang. Karena Bapak waktu itu mengingatkan saya, saya tetap ikhtiar dan berusaha membantu orang-orang sebanyak mungkin dengan apa yang saya bisa. Ternyata ketika saya membantu mereka, Allah memberi bantuan juga kepada saya sampai bisa jadi seperti sekarang.” Tambah muridnya itu.

Pak Hadi hanya dapat tersenyum haru melihat bagaimana anak didiknya yang kini sudah sukses masih mengingat pesannya kala itu. Ia peluk muridnya itu sekali lagi sembari berbisik. “Bapak bangga dengan kamu, nak.”

***

“Tapi Pak, biar saya pernah jadi murid Bapak, denda tilangnya tetap harus di bayar ya Pak.” Tambah Reza dengan cengiran di wajahnya.

“Iya, iya. Bapak kan guru kamu. Harus mencontohkan jadi warga yang taat aturan kan?” Pak Hadi terkekeh sambil mengikuti muridnya itu ke pos polisi di seberang jalan.

-SELESAI-

“Hikmah Sebuah Pensil”

Seorang anak bertanya kepada ibunya yang sedang menulis sebuah surat.
“Ibu lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?”

Mendengar pertanyaan si Anak, sang Bunda berhenti menulis dan berkata kepada anaknya,
“Sebenarnya ibu sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang ibu pakai. Ibu harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti”, ujar sang Bunda lagi. Mendengar jawaban ini, si Anak kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada bunda ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang bundanya pakai.

“Tapi bu, sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya”, Ujar si anak

Sang Bunda kemudian menjawab,

“Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini. Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini”,

Sang Bunda kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.

Pertama:

Pensil mengingatkan kamu kalau kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya Allah, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya”.

Pensil dituntun oleh tangan,
Jadikan penuntun Kita adalah Allah Swt

Kedua:

Dalam proses menulis, bunda kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil bunda. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik”.

Ketiga:

Pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar”.

Penghapus selalu membenarkan kata kata kita dengan menghapus tulisan yg salah.
Kita juga harus mendengar nasehat orang lain apabila kita salah dan segera introspeksi diri.

Keempat:
Bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu”.
Dalam hal ini yang ada dalam diri kita adalah hati dan nafsu, akal dan fikiran dan semua yang berasal dari dalam diri kita. Harus selalu kita kendalikan.

Kelima:
Sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan…
Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan tinggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan”

Kita pun demikian , apa yang kita perbuat akan meninggalkan goresan baik atau buruk yang nantinya akan di hisab,
maka berhati hatilah akan setiap goresan yang kita perbuat.

Forgive and Forget

Ini sebuah kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir.
Ditengah perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi tanpa berkata-kata, dia menulis diatas pasir :

HARI INI SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU

Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi.
Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan sahabatnya. Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya hilang dia menulis disebuah batu

HARI INI SAHABAT TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU

Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya : “kenapa setelah saya melukai hatimu, kamu menulisnya diatas pasir, dan sekarang kamu menulis diatas batu ?”
Temannya sambil tersenyum menjawab :
“ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya diatas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan itu

Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya diatas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup angin.

Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu. Belajarlah menulis diatas pasir.

Since we all need forgiveness, we should always be forgiving.

Ayah

Sosok dia yang terkadang kita lupakan, penuh kasih sayang dan pengorbanan untuk kita. Dia memiliki hati yang lembut tapi selalu terlihat sangat kuat didepan kita. Dia adalah ”AYAH”

Kadang dalam sebuah keluarga, kita sebagai anak selalu lebih dekat dengan ibu bahkan kakak atau adik, dibanding ayah. Tahukah sebenarnya bagaimana ayah kita dibalik sikap tegasnya?

Saat kita main sampai larut, ayahlah yang menyuruh ibu telphone kita.
Saat kita menangis, ayahlah yang menyuruh ibu bertanya kenapa pada kita.
Saat kita ulang tahun, ayahlah orang yang mati-matian bekerja untuk membeli hadiah atau bahkan hanya sebuah kue kecil.
Saat kita sakit, ayahlah orang yang rela berusaha mencari dokter walau hujan atau apapun.
Saat kita lupa ibadah, ayahlah orang yang selalu mngingatkan kita.
Saat kita terluka, ayahlah orang yang mampu mengendong kita.
Saat kita tumbuh dewasa, ayahlah yang selalu menyelipkan nama kita dalam doanya.
Saat kita menikah kelak, ayahlah orang yang paling tak rela kehilangan kita.

Tapi mengapa ayah selalu terlihat cuek? karena ayah tidak ingin terlihat lemah oleh anaknya, ayah menangis saat menyendiri dan terlihat kuat saat bersama anaknya. Dan ayah hanya mengeluh kepada Tuhan.
Andai Tuhan bicara dengan ayah kita, “anakmu akan Ku panggil”, mungkin ayah akan menjawab “tukarlah nyawaku dengan nyawanya, aku ikhlas”.

Kadang kita menghargai ayah hanya karena rasa takut, kadang kita lebih mudah cerita masalah ke ibu dibandingkan ayah. Sesungguhnya dibalik keras kepala ayah, tersimpan hati yang sangat lembut. Selagi ada kesempatan, banggakanlah dia, teruslah buat dia tersenyum. Peluklah ayahmu karena ayah tak mampu ngalahkan egonya. Hargai, hormati, dan cintailah ayahmu melebihi cinta pada diri kita sendiri.

Raja Sehari

Pernah hidup seorang Raja tua yang sangat bijaksana, memerintah sebuah negeri yang aman tenteram dan makmur sentosa. Suatu malam, Raja tua dan pembantunya berkeliling kota dan menemukan sebuah gubug yang kumuh.

Raja tua mengendap mendekati gubug itu dan mencuri dengar. Rupanya gubug itu dihuni oleh seorang janda miskin beranak satu. Sang anak menangis kelaparan,sementara sang Ibu sibuk menghibur si anak. “Sabarlah nak. Ibu akan menghadap Raja besok. Ibu dengar dia Raja yang murah hati. Dia pasti akan memberikan makanan bagi kita”.

Raja tua terenyuh hatinya dan memanggil sang pembantu, “Jika mereka sudah tidur, ambil anaknya dan letakkan di tempat tidurku. Besok, aku ingin dia menjadi Raja selama satu hari. Sehingga saat Ibunya datang menghadap, dia bisa memberikan sebanyak apapun harta kekayaan istanaku kepada ibunya.”

Si anak bangun tidur di kamar Raja yang mewah. Para pelayan istana memberikan penghormatan kepada si anak, selayaknya seorang Raja. Mereka melayani dia dari keperluan mandi hingga sarapan. Dari pagi hingga siang, si anak bermain-main dengan para Pangeran dan Putri istana. Semuanya menghormati dia selayaknya seorang Raja. Si anak mulai berpikir bahwa dia akan seterusnya tinggal di istana sebagai seorang Raja. Dia mulai menikmati segala kemewahan disekelilingnya.

Tiba saatnya Raja duduk di ruang sidang, memutuskan masalah rakyat. Disamping singgasana Raja, duduk Penasihat Agung Kerajaan, yang tiada lain adalah Raja tua yang asli. Satu demi satu Raja memutuskan urusan rakyat dengan bijaksana, atas saran bijak Penasihat Agung. Hingga tiba giliran sang Ibu yang miskin untuk menghadap. Malu, sang Ibu hanya tertunduk, tidak berani memandang Raja. Tapi Raja dapat mengenali Ibunya. Usai mendengarkan penuturan ibunya, Raja memerintahkan untuk memberikan dua karung gandum dan sepuluh keping uang emas kepada ibunya. Penasihat Agung dan pembesar lainnya terkejut.

“Yang Mulia,” tegur Penasihat Agung. “Kekayaan istana ini sungguh tidak terbatas. Kita bisa memberikan lebih banyak lagi.”

“Yang Mulia,” Menteri Pangan bangkit dari kursinya. “Menurut perhitungan hamba, jika Tuanku menyerahkan 1000 lumbung padi sekalipun, negara masih memiliki kelimpahan yang tidak terbatas. Saran hamba, berikanlah lebih dari itu.”

“Tuanku,” Bendahara Negeri ikut menimpali. “Menurut hitungan hamba, jika Tuanku mengeluarkan seluruh persediaan emas negara untuk Ibu ini, negara masih tetap kaya karena bulan depan kita akan memperoleh pendapatan emas dua kali lipat dari hari ini. Saran hamba, berikanlah lebih dari itu.”

Demikianlah, Penasihat Agung dan satu demi satu pembesar kerajaan mencoba membujuk Raja untuk memberikan lebih kepada Ibunya. Tetapi Raja tidak perduli. Dia bahkan marah dengan usulan-usulan yang dianggap mempertanyakan otoritasnya itu. Sang Ibu yang miskin akhirnya pulang dengan dua karung gandum dan sepuluh keping uang emas.

Ketika matahari tenggelam, si anak tertidur kelelahan. Raja tua berkata kepada pembantunya, “Aku telah menggenapi janjiku untuknya. Kembalikan lagi dia ke rumah Ibunya.” Sang anak terbangun kembali di gubugnya. Dia pikir dia baru bermimpi. Namun dia terkejut mendengar cerita Ibunya. Si anak segera menyadari kesalahannya, dan berlari ke istana menemui Raja tua.

“Yang Mulia, ampuni hamba. Hamba kini menyadari maksud Baginda. Hamba mohon, kembalikan hamba menjadi Raja, agar hamba bisa memberikan lebih kepada Ibu hamba.”

“Tidak bisa,” kata Raja.

“Satu menit saja, Yang Mulia. Sekedar memerintahkan untuk memberikan lebih kepada ibunda hamba.”

“Anakku,” kata Raja. “Waktumu telah berlalu. Apa yang telah engkau berikan untuk ibumu, itulah yang akan engkau nikmati.”

“Berkah” Hinaan

Suatu hari, anak muda ini mengantar penuh muatan berisi puluhan buku ke kantor berlantai 7 di suatu perguruan tinggi ; ketika dia memanggul buku-buku tersebut menunggu di lift, seorang satpam yang berusia 50-an menghampirinya dan berkata : “Lift ini untuk profesor dan dosen, lainnya tidak diperkenankan memakai lift ini, kau harus lewat tangga!” Anak muda […]

“Berkah” Hinaan

Cara Mengecek dan Mencetak Kartu NISN Sendiri

Contoh punya Icha

Cara Mengecek dan Mencetak Kartu NISN Sendiri Setelah mengupload referensi Cetak Kartu NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan) ada siswa yang penasaran cara mengetahui NISN (Nomor Induk Siswa Nasional) dan cara mencetaknya, gratis asal punya quota hehehe Begini langkahnya : NISNPastikan terdaftar di https://referensi.data.kemdikbud.go.id/nisn/index.php/Cindex/formcaribynama Nama Tempat Lahir Tanggal Lahir Jenis Kelamin Cetak disinihttps://opsbukal.blogspot.com/2020/04/cetak-kartu-nisn-dengan-kode-qr.html#wrapper

Cara Mengecek dan Mencetak Kartu NISN Sendiri
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai